Review Animasi Fantasia (1940) Animasi Konser Paling Megah [The Magical Concert Feature]

 

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Review dan Sinopsis Fantasia (1940) Animasi Konser Paling Megah [The Magical Concert Feature]

Edisi Review Singkat+PLUS

Oleh Skywalker HunterNabil Bakri

“How do you do? Uh, my name is Deems Taylor, and it's my very pleasant duty to welcome you here on behalf of Walt Disney, Leopold Stokowski, and all the other artists and musicians whose combined talents went into the creation of this new form of entertainment, "Fantasia". What you're going to see are the designs and pictures and stories that music inspired in the minds and imaginations of a group of artists. In other words, these are not going to be the interpretations of trained musicians, which I think is all to the good. Now there are three kinds of music on this "Fantasia" program. First, there's the kind that tells a definite story. Then there's the kind that, while it has no specific plot, does paint a series of more or less definite pictures. And then there's a third kind, music that exists simply for its own sake. Now, the number that opens our "Fantasia" program, the "Toccata and Fugue", is music of this third kind, what we call "absolute music". Even the title has no meaning beyond a description of the form of the music. What you will see on the screen is a picture of the various abstract images that might pass through your mind, if you sat in a concert hall listening to this music. At first, you're more or less conscious of the orchestra. So our picture opens with a series of impressions of the conductor and the players. Then the music begins to suggest other things to your imagination. They might be... oh, just masses of color, or they may be cloud forms or great landscapes or vague shadows or geometrical objects floating in space. So now we present the "Toccata and Fugue in D Minor" by Johann Sebastian Bach, interpreted in pictures by Walt Disney and his associates, and in music by the Philadelphia Orchestra and its conductor, Leopold Stokowski.”—Deems Taylor

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Review berikut menggunakan gambar/foto milik pemegang hak cipta yang dilindungi doktrin fair use. The following review utilizes copyrighted pictures under the doctrine of fair use.

Genre             : Fantasi—Musikal [Bersegmen/Segmented][Animasi tradisional/hand-drawn animation]

Rilis                 : 13 November 1940

Durasi             : 126 menit

Sutradara       : Samuel Armstrong, James Algar, Bill Roberts, Paul Satterfield, Ben Sharpsteen, David D. Hand, Hamilton Luske, Jim Handley, Ford Beebe, T. Hee, Norman Ferguson, Wilfred Jackson

Pemeran         : Leopold Stokowski, Deems Taylor

Episode           : -

Lebih lanjut: Pelajari tentang di balik layar pembuatan Fantasia

Lebih lanjut: Daftar animasi Disney klasik

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Sinopsis

Fantasia adalah sebuah film yang berisi Delapan [8] segmen yang berbeda dengan dirajut sebagai sebuah konser. Kedelapan segmen itu adalah sebagai berikut:

Satu| Toccata and Fugue. Fantasia dibuka dengan perkenalan oleh pembawa acara Deems Taylor. Ia memberikan gambaran tentang Fantasia dan program-program [segmen] apa saja yang ada di dalam “acara” tersebut. Deems Taylor kemudian mempersilakan konduktor Leopold Stokowski untuk memimpin orkestra memainkan musik Toccata and Fugue in D Minor karya Johann Sebastian Bach. Segmen pertama ini berisi gambar-gambar abstrak yang diperlihatkan sebatas untuk mengiringi musik. Terdapat bayangan-bayangan, garis, dan berbagai pola acak yang berbeda berterbangan menghiasi layar selama musik dimainkan. Menurut Deems Taylor, segmen pertama ini hanyalah gambaran-gambaran abstrak yang mungkin tidak memiliki arti dan hanya bergerak mengikuti alunan musik tanpa ada alur cerita sama sekali.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Dua| The Nutcracker Suite. Segmen yang ke dua ini menggunakan musik dari balet karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky. Balet itu sendiri diangkat berdasarkan dongeng The Nutcracker and the Mouse King yang bercerita tentang sebuah prajurit pemecah kacang yang hidup dan berperang melawan Raja Tikus yang jahat. Meskipun musik ini secara spesifik diciptakan untuk menceritakan sebuah dongeng melalui balet, tetapi Disney secara sengaja tidak menceritakan tentang Nutcracker sama sekali—judul “Nutcracker” dalam segmen ini hanya berfungsi sebagai judul. Segmen ini justru mengembangkan segmen sebelumnya yakni dimulai dengan gambar-gambar bunga, ikan, dan jamur yang menari tanpa ada narasi yang jelas. Segmen ini menampilkan beragam tarian dengan judul Arabian Dance, Chinese Dance, Russian Dance, Waltz of the Flowers, Dance of the Flutes, dan Dance of the Sugar Plum Fairy. Barulah perlahan-lahan segmen ini memiliki cerita yang jelas yakni memperlihatkan bagaimana bangsa Peri mengubah musim.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Tiga| The Sorcerer’s Apprentice. Dalam segmen ke tiga, terdapat alur cerita yang jelas yakni Mickey Mouse menjadi murid dari Penyihir Yen Sid. Ketika mendapatkan tugas untuk mengisi kuali raksasa dengan air, Mickey justru menggunakan sihir dan memerintahkan sebuah sapu untuk melaksanakan tugasnya. Mickey kemudian bersantai dan bermimpi menjadi penyihir yang adidaya. Mimpinya dibuyarkan oleh banjir yang disebabkan sapu ajaib tidak berhenti menuangkan air. Mickey tidak tahu mantra untuk menghentikan sapu itu dan akhirnya memotong-motong sapu itu dengan kapak. Bukannya menyelesaikan masalah, serpihan sapu itu justru berubah menjadi sapu lainnya dan berbondong-bondong mereka menuangkan air ke dalam kuali sampai seluruh ruangan digenangi air. Berbanding terbalik dengan segmen The Nutcracker Suite, khusus untuk segmen ini, Disney tidak hanya membuat cerita yang jelas untuk musik The Sorcerer’s Apprentice, tetapi musik itu sendiri sudah mengandung cerita berdasarkan sebuah puisi berjudul Der Zauberlehrling karya Johann Wolfgang von Goethe. Komposer Paul Dukas sejak awal menciptakan musik The Sorcerer’s Apprentice untuk menceritakan puisi tersebut. Meskipun segmen ini menampilkan Mickey Mouse, tetapi inti ceritanya sama dengan puisi dan musik The Sorcerer’s Apprentice.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Empat| Rite of Spring. Segmen yang diangkat dari balet karya Igor Stravinski tentang tarian di musim semi ini diubah menjadi kronologi terbentuknya planet bumi. Pada mulanya, diperlihatkan bumi yang penuh dengan gejolak sebelum makhluk hidup pertama muncul. Secarara bertahap, makhluk hidup ini bertambah banyak dan berevolusi menjadi dinosaurus. Setelahnya, segmen ini fokus menceritakan dinamika kehidupan para dinosaurus, mulai dari dinosaurus herbivora, dinosaurus terbang, hingga dinosaurus pemakan daging. Secara spesifik, Deems Taylor menyebutkan bahwa T-Rex adalah dinosaurus yang paling mengerikan dan nantinya diperlihatkan pertarungan sengit antara seekor T-Rex dengan seekor Stegosaurus. Ceritanya tidak berhenti sampai di situ; terjadi perubahan iklim yang sangat ekstrim dan menyebabkan seluruh dinosaurus punah dan benua di muka bumi terpecah belah. Setelah segmen Rite of Spring berakhir, Deems Taylor mengumumkan istirahat [Intermission] selama 15 menit.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Lima| Meet the Soundtrack. Setelah istirahat dan sebelum segmen dilanjutkan, para pemusik di atas panggung memainkan alat musik mereka dan saling bersahutan musik [jam session]. Permainan musik secara bebas itu berlangsung singkat sampai Deems Taylor kembali ke atas panggung dan memperkenalkan The Soundtrack, sebuah garis yang memperlihatkan berbagai macam suara dari alat musik yang berbeda. Garis ini akan memainkan bunyi alat musik dan akan meliuk-liuk sesuai dengan instrumen yang dimainkan.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Enam| The Pastoral Symphony. Segmen ini menggunakan musik karya Ludwig van Beethoven yang dimaksudkan untuk menunjukkan ekspresinya terhadap keindahan alam dan pedesaan. Deems Taylor menjelaskan bahwa seniman Disney mengartikan “Pedesaan” secara “berbeda” dengan menampilkan pedesaan mitologi Yunani. Segmen ini memperlihatkan aktivitas tokoh-tokoh mitologi Yunani seperti Cupid, Pegasus, Centaur, dan para Dewa. Segmen ini dimulai dengan keceriaan para Satyr dan Unicorn kecil. Kemudian, diperlihatkanlah sekawanan Pegasus yang terbang dan mendarat di danau dengan anggun layaknya angsa. Setelah itu, terdapat kisah cinta para Centaur yang bersemangat mencari pasangan. Seluruh penghuni dunia mitologi bersuka ria ketika menyambut Bacchus, Dewa minuman anggur, tetapi keceriaan mereka dihentikan oleh Dewa Zeus yang melemparkan petirnya. Berbagai Dewa kemudian diperlihatkan termasuk Dewa pelangi yang muncuk setelah Zeus, Dewa matahari yang berkuda membawa matahari tenggelam, dan Dewi bulan yang menembakkan bintang sebagai anak panahnya.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Tujuh| Dance of the Hours. Segmen ini diangkat dari balet karya Amilcare Ponchielli yang mengisahkan pertarungan abadi antara kekuatan cahaya dan kegelapan melalui berbagai tarian yang ditampilkan di hadapan seorang karakter bernama Alvise dan tamu-tamunya di sebuah ruang dansa yang megah. Seniman Disney mengubah tarian itu menjadi tarian para binatang yakni [1] tarian pagi hari [dawn] oleh Madame Upanova, seekor burung unta penari bersama burung unta lainnya, [2] tarian siang hari [noon] oleh pemimpin kuda nil Hyacinth Hippo dan para pengikutnya, [3] tarian senja [twilight] oleh gajah Elephanchine dan para gajah peniup gelembung, serta [4] tarian malam hari [night] oleh Ben Ali Gator dan kelompok buaya. Segmen ini ditutup dengan Ben Ali Gator yang membuat kekacauan dan seluruh binatang berdansa bersama hingga istana tempat tinggal mereka runtuh.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Delapan| Night on Bald Mountain diikuti Ave Maria. Sebelum segmen ini dimulai, pembawa acara Deems Taylor menjelaskan bahwa segmen ini adalah segmen terakhir yang berisi dua karya musik yang bertolak belakang. Musik Night on Bald Mountain karya Modest Mussorgsky digunakan untuk memperlihatkan Iblis Chernabog yang bangun di atas Bald Mountain dan memanggil para iblis dan arwah gentayangan dalam sebuah ritual kegelapan penuh dosa. Ketika fajar tiba, bel Angelus berdentang bersamaan dengan para biarawan yang berbaris menuju Katedral dan diiringi lagu Ave Maria karya Franz Schubert. Denting bel itu menghentikan ritual iblis, membuat para arwah kembali ke dalam kubur dan Iblis Chernabog kembali ke dalam tidurnya di puncak Bald Mountain.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

“The last number on our Fantasia program is a combination of two pieces of music so utterly different in construction and mood that they set each other off perfectly. The first is "A Night On Bald Mountain" by one of Russia's greatest composers, Modest Mussorgsky. The second is Franz Schubert's world-famous "Ave Maria". Musically and dramatically, we have here a picture of the struggle between the profane and the sacred. "Bald Mountain", according to tradition, is the gathering place of Satan and his followers. Here, on Walpurgnisnacht, which is the equivalent of our own Halloween, the creatures of evil gather to worship their master. Under his spell, they dance furiously until the coming of dawn and the sounds of church bells send the infernal army slinking back into their abodes of darkness. And then we hear the "Ave Maria", with its message of the triumph of hope and life over the powers of despair and death.”—Deems Taylor

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

01 Story Logic

Fantasia secara umum tidak logis karena tidak memiliki konsep yang jelas. Maka, tidak jelas dalam genre apakah film ini bertambat. Permasalahan ini nantinya akan sangat memengaruhi konsistensi cerita yang tidak konsisten. Setelah mengamati kembali film ini dan mempelajari proses pembuatannya, penilaian Skywalker memposisikan Fantasia sebagai sebuah film Fantasi—Musikal Bersegmen atau film Fantasi—Musikal yang dibagi dalam beberapa Segmen. Karena masing-masing Segmen dalam film ini tidak saling berkaitan, maka masing-masing perlu memiliki Logika tersendiri. Secara Konsep, presentasi film ini masih kurang jelas: apakah sebuah rekaman Konser atau sebuah Film. Apabila Fantasia hanya sebatas rekaman Konser, maka terlalu banyak penjelasan yang mengingatkan penonton bahwa Fantasia adalah sebuah Film. Namun apabila Fantasia adalah sebuah Film, tidak ada alur cerita yang jelas dalam film ini. Meskipun Fantasia dikatakan sebagai film eksperimen, Fantasia tetaplah sebuah Film, bukan Konser. Apabila Fantasia hanya bertujuan mereplikasi suasana Konser, maka Fantasia seharusnya dijadikan sebagai Konser live atau salah satu hiburan di Disneyland.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Film ini harus memiliki sebuah tujuan yang jelas untuk menjustifikasi keberadaannya sebagai sebuah Film. Fantasia 2000 bahkan memiliki alasan yang kuat yakni sebagai kelanjutan tradisi dari Fantasia—meskipun tradisi yang memulainya tidak memiliki kejelasan yang masuk akal. Dalam film Cirque Du Soleil Worlds Away, James Cameron dan Andrew Adamson ingin memperlihatkan atraksi sirkus Cirque Du Soleil kepada penonton, tetapi tetap terdapat cerita yang memberikan alasan untuk menampilkan berbagai atraksi sirkus tersebut: karakter utama film ini tersedot ke dunia ajaib Cirque Du Soleil dan berusaha mencari pujaan hatinya. Apabila tidak ada cerita yang memberikan alasan untuk menampilkan atraksi sirkus sebagai Film, maka tidak ada alasan film itu diciptakan karena penonton perlu menyaksikan atraksi secara langsung. Hal yang serupa terjadi pada pementasa Broadway yang dibedakan dengan film. Film Cats yang dirilis tahun 2019 mendapatkan tanggapan negatif karena mencoba mereplikasi penampilan pemeran teater yang jelas-jelas memakai kostum. Namun, Film adalah medium yang berbeda sehingga memaksakan karakter teater Cats ke layar lebar tidak berhasil. Tidak ada gunanya meriplikasi pengalaman menonton Broadway karena jika ingin merasakan sensasi Broadway, penonton pergi ke gedung teater, bukan ke bioskop.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Disney ingin menampilkan berbagai musik Klasik populer yang dipadukan dengan animasi karya seniman profesional Disney—tetapi untuk apa? Apa yang menjustifikasi perlu dibuatnya film ini? Apa yang membuat penonton perlu menyaksikannya di gedung bioskop dan bukannya di gedung konser? Apa logika yang mengikat alasan keberadaan Fantasia? Alasan-alasan yang ada justru terletak di proses pembuatan film ini: Disney ingin melakukan eksperimen. Alasan ini bisa saja dimasukkan sebagai adegan pembukaan Fantasia—seperti dalam Fantasia 2000—sehingga penonton benar-benar memahami alasan diciptakannya film ini. Film Around the World in 80 Days menampilkan sejarah singkat perkembangan teknologi untuk memberikan gambaran kepada penonton sebelum filmnya dimulai. Fantasia 2000 menampilkan tentang seberapa pentingnya Fantasia bagi dunia animasi sehingga perlu dilanjutkan; bisa saja adegan Fantasia dibuka dengan Walt Disney yang berangan-angan tentang sebuah Concert Feature dan menceritakan alasannya ingin menciptakan film yang semacam itu. Tanpa ada cerita atau alasan yang kuat/logis, maka film ini hanyalah rekaman sebuah Konser—yang itu pun tidak tepat juga karena jelas-jelas ada segmen animasi di dalamnya. Tidak hanya logika yang mendasari konsep film ini, logika di masing-masing segmen pun belum kuat. Permasalahan ini akan sangat memengaruhi Konsistensi Cerita.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

02 Story Consistency

Alur Cerita dalam Fantasia secara umum dan spesifik dalam segmen-segmennya masih belum konsisten. Konsep film ini masih belum konsisten sehingga memengaruhi Logika cerita secara keseluruhan. Alur cerita Fantasia tidak jelas karena tidak ada alasan yang jelas mengapa Deems Taylor membawakan acara konser, Leopold Stokowski memimpin orkestra, dan berbagai segmen animasi ditayangkan. Proses atau urutan konsep perpaduan musik dengan animasi pun tidak konsisten. Segmen pertama adalah musik dengan lukisan abstrak, musik ke dua sudah memperjelas aspek abstrak menjadi bagian-bagian cerita yang lebih jelas meskipun tidak sesuai dengan cerita dari musiknya [The Nutcracker]. Musik ke tiga sudah lebih jelas lagi karena sudah mengikuti cerita dari musiknya [The Sorcerer’s Apprentice], tetapi musik ke empat kembali lagi menceritakan kisah yang tidak sesuai dengan musiknya [The Rite of Spring] dan struktur segmen kehidupan dinosaurus lebih mirip dengan struktur The Nutcracker ketimbang The Sorcerer’s Apprentice yang memiliki cerita yang jelas seperti sebuah film pendek Mickey Mouse pada umumnya. Padahal, Fantasia bisa mengubah susunan musiknya agar lebih mengalir yakni dari segmen yang abstrak kemudian perlahan-lahan menjadi semakin jelas—bukannya terbalik-balik sehingga semakin tidak jelas maksud dari presentasi film ini.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Berkaitan erat dengan Logika Cerita, segmen-segmen dalam Fantasia tidak memiliki cerita yang jelas. Dalam segmen pertama, Toccatta and Fugue, memang Deems Taylor sudah menyebutkan segmen itu sebagai segmen yang abstrak dan tidak menawarkan cerita yang spesifik. Namun sekali lagi, tanpa cerita yang spesifik, tidak ada alasan Fantasia menjadi sebuah Film bukannya sebuah Konser. Dalam Fantasia 2000, segmen pertamanya juga menampilkan gambar-gambar abstrak. Namun, gambar abstrak itu tetap memiliki konsep cerita yang jelas: apa signifikansi gambar abstrak tersebut, apa yang ingin dicapai. Dalam dokumenter Four Artists Paint One Tree produksi Disney sendiri, diperlihatkan 4 seniman yang melukis satu pohon yang sama dengan 4 gaya yang berbeda. Salah seorang seniman menggambar pohon itu dengan gaya abstrak. Namun, jelas sekali bahwa gaya abstrak yang sulit dipahami orang awam pun sebenarnya tetap memiliki tujuan yang jelas. Sang seniman bisa menjelaskan kenapa ia melukis pohon tersebut secara abstrak dan apa fungsi dari warna-warna serta jenis cat yang ia pilih.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Kembali kepada contoh Cirque Du Soleil, film ini sebenarnya hanya ingin memperlihatkan keindahan atraksi para pemain sirkus profesional, tetapi tetap disisipkan sebuah cerita agar mengikat keseluruhan filmnya. Kompilasi adegan atraksi surkus tidak akan membuat Cirque Du Soleil Worlds Away menjadi sebuah film. Apa alasannya atraksi-atraksi itu harus ditampilkan? Karena tokoh utamanya tersedot ke dunia ajaib dan harus menyaksikan berbagai atraksi itu selama proses mencri pujaan hatinya. Dengan demikian, film itu memiliki konsep cerita yang serupa [tapi tak sama] dengan Alice in Wonderland. Bisa saja Disney menceritakan petualangan Mickey dan Donald menyaksikan konser dan mereka membicarakan tentang musik-musik yang disajikan.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

03 Casting Choice and Acting

Tidak ada keluhan dalam pemilihan aktor dan pengisi suara. Karakter Mickey Mouse yang ditampilkan dalam film ini adalah pilihan yang strategis karena Mickey adalah “wajah” studio Disney sehingga kemunculannya dalam Fantasia membuat karakter Mickey tetap relevan untuk generasi baru.

04 Music Match

Penilaian Skywalker tidak dapat menyatakan bagus atau tidaknya kualitas sebuah lagu atau musik. Namun, penilaian ini dapat menyatakan sesuai atau tidak musik yang digunakan untuk mengiringi sebuah adegan. Dalam Fantasia, musik-musik yang dipilih adalah musik populer, tetapi kekurangan Film ini adalah kurangnya penjelasan mengenai alasan musik-musik tersebut dipilih. Selain itu, banyak musik dalam film ini yang diciptakan untuk mengiringi balet dengan cerita atau narasi yang jelas. Sebagai contoh, musik The Nutcracker Suite dan Dance of the Hours diangkat dari balet yang menyajikan cerita yang jelas [musik-musik tersebut memiliki alur cerita]. Namun, Disney secara sengaja mengubah narasi musik tersebut dengan acak atau seolah-olah dengan acak karena tidak memberikan penjelasan atau justifikasi mengapa narasinya diubah—sedangkan The Sorcerer’s Apprentice tidak. Pemilihan musik dan interpretasi Disney terhadap musik-musik itu lantas dipertanyakan oleh banyak musisi/komposer, bahkan penulis musiknya sendiri mempertanyakan cara Disney menginterpretasikan musiknya yang dinilai salah kaprah. Igor Stravinki, pencipta Rite of Spring, menyatakan ketidaksukaannya terhadap penggunaan musiknya di dalam Fantasia. Menurutnya, aransemen musiknya kurang tepat dan bagian nada yang kompleks justru dihilangkan. Keluhan Igor Stravinski mengindikasikan bahwa Disney telah mengubah musik-musik di dalam Fantasia agar lebih menyatu dengan animasinya. Namun, masih terdapat banyak gerakan karakter yang tidak sesuai dengan nuansa musik yang disajikan. Bahkan, tidak jarang terdapat adegan yang terlalu “sepi” meskipun keadaan adegan tersebut “ceria” atau “menegangkan”. Keserasian musik dan gerakan dalam Fantasia 2000 sudah lebih baik ketimbang Fantasia, dan keserasian musik dan gerakan dalam serial Tom and Jerry Klasik masih lebih baik lagi.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

05 Cinematography Match

Sinematografi dalam film ini sudah baik, teritama dalam segmen Rite of Spring dan Night on the Bald Mountain. Dalam membuat segmen Rite of Spring, animator Disney berkonsultasi dengan Roy Chapman Andrews yang merupakan direktur American Museum of Natural History, Julian Huxley yang merupakan pakar biologi, pakar paleontologi Barnum Brown, serta astronom Edwin Hubble. Meskipun konsep film ini secara umum masih tidak jelas dan alur ceritanya tidak konsisten, masing-masing Segmen dibuat dengan proses penelitian yang baik sehingga menghasilkan sinematografi dan desain karakter yang baik.

“The symphony that Beethoven called the "Pastoral", his sixth, is one of the few pieces of music he ever wrote that tells something like a definite story. He was a great nature lover, and in this symphony, he paints a musical picture of a day in the country. Of course, the country that Beethoven described was the countryside with which he was familiar. But his music covers a much wider field than that, and so Walt Disney has given the "Pastoral Symphony" a mythological setting, and the setting is of Mount Olympus, the abode of the gods. And here, first of all, we meet a group of fabulous creatures of the field and forest: unicorns, fawns, Pegasus the flying horse and his entire family, the centaurs, those strange creatures that are half man and half horse, and their girlfriends, the centaurettes. Later on, we meet our old friend Bacchus, the god of wine, presiding over a bacchanal. The party is interrupted by a storm, and now we see Vulcan forging thunderbolts and handing them over to the king of all the gods, Zeus, who plays darts with them. As the storm clears, we see Iris, the goddess of the rainbow, and Apollo, driving his sun chariot across the sky. And then Morpheus, the god of sleep, covers everything with his cloak of night as Diana, using the new moon as a bow, shoots an arrow of fire that spangles the sky with stars.”—Deems Taylor

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

06 Costume and Character Design

Karena Fantasia dibagi menjadi beberapa Segmen, masing-masing Segmen dapat memiliki desain karakter dan latar belakang yang berbeda-beda. Meskipun demikian, masing-masing Segmen sudah memiliki karakter dengan desain yang sesuai sehingga sudah terlihat berasal dari Universe yang sama. Untuk adegan live action, kostum yang dikenakan sudah baik karena memang menggunakan pakaian konser pada umumnya.

07 Background/Set Match

Berkaitan dengan poin Character Design, desain latar belakang dalam Fantasia, untuk masing-masing Segmen, sudah sesuai dengan desain karakternya. Latar belakang pedesaan dalam The Pastoral Symphony yang ceria sudah sesuai dengan desain karakternya yang bulat dan penuh kelucuan [cartoonish—seperti desain karakter dalam Pinocchio], terlihat berbeda dengan latar belakang alam di Segmen Rite of Spring yang lebih realistis. Latar belakang Night on the Bald Mountain yang lebih realistis pun dipadukan dengan desain karakter yang lebih realistis atau lebih proporsional. Misalnya, karakter Iblis Chernabog memiliki anatomi yang realistis karena digambar berdasarkan gerakan manusia asli.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

08 Special and/or Practical Effects

Penggunaan efek khusus dalam film ini sudah baik. Gerakan animasi, warna, dan pencahayaan Fantasia sudah baik. Film ini berhasil menampilkan efek 3 dimensi secara baik dengan menggunakan Multiplane Camera, salah satunya dalam menampilkan keadaan hutan yang penuh dinosaurus dalam Rite of Spring. Selain mengunggulkan efek animasi Disney yang sudah dikenal luas lewat film Snow White and the Seven Dwarfs, Fantasia menjanjikan efek spesial dalam teknologi suara menggunakan teknologi Fantasound. Dengan demikian, Fantasia mampu memberikan suara yang lebih baik dalam mereplikasi suara seperti benar-benar berada di ruang konser. Teknologi ini menjadikan Fantasia sebagai film komersial pertama yang diputar dengan Stereo sound.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

09 Audience Approval

Fantasia mendapatkan tanggapan yang beragam—cenderung negatif dari kalangan penonton. Banyak orang tua yang mengeluhkan Fantasia terlalu menakutkan untuk anak-anak. Selain itu, konsep film ini masih “baru” dan tergolong “aneh” bagi masyarakat umum. Apalagi, film ini dirilis pada masa Perang Dunia II. Penonton menginginkan cerita yang ringan dan menghibur seperti Snow White dan Pinocchio, bukan sebuah film eksperimen yang kurang jelas konsepnya. Keinginan penonton yang sederhana ini kemudian dibuktikan dengan kesuksesan film Dumbo pada 1941 yang sangat sederhana dan sangat singkat. Segmen yang mendapatkan apresiasi tinggi adalah The Sorcerer’s Apprentice, satu-satunya Segmen yang memiliki alur cerita yang jelas.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

10 Intentional Match

Fantasia dimaksudkan untuk menjadi sebuah terobosan baru dalam dunia animasi. Film ini adalah sebuah eksperimen yang ambisius dan diciptakan dengan keseriusan tinggi. Seorang pencipta tentunya memiliki sebuah visi, tetapi visi itu tidak selalu tercapai dengan baik. Itulah sebabnya sistim penilaian Skywalker menyertakan poin Intentional Match dalam 10 penilaian inti. Dalam film The Amazing Bulk yang dikritik karena efek komputernya terlalu buruk, sang sutradara membela diri dengan menyatakan bahwa efek komputer yang “buruk” itu disengaja agar filmnya terlihat seperti sebuah buku komik. Sebagai penonton, kita dapat menilai apakah visi sang sutradara sudah benar-benar tercapai atau belum. Pada kenyataannya, The Amazing Bulk tidak berhasil mencapai visi sutradaranya dan film itu terlihat dibuat dengan tidak kompeten. Contoh lain adalah sutradara Christopher Nolan yang sering membuat klaim kompleksitas tinggi dalam film-filmnya. Kita lantas bisa menilai apakah klaim itu sungguh-sungguh, ataukah sang sutradara bersikap Pretentious.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Ketika film Sleeping Beauty dirilis, film tersebut tidak memenuhi ekspektasi Walt Disney dari segi finansial, tetapi film itu sudah memenuhi ekspektasi artistik Walt Disney berdasarkan catatan sejarah proses pembuatannya. Fantasia, di sisi lain, tidak berhasil menyajikan sebuah gebrakan dalam dunia animasi—bahkan tidak berhasil menjadi hiburan semua kalangan, yang justru berhasil dipenuhi oleh film “murah” Dumbo. Fantasia adalah sebuah eksperimen yang mahal, kompleks, dan gagal. Film ini sama sekali tidak memberikan alasan atau justifikasi pengalihan penonton dari ruangan konser ke dalam gedung bioskop: jika ingin mendengarkan konser, kenapa tidak datang ke konser? Jika bukan konser dan bukan sebatas “rekaman konser”, apa signifikansi ceritanya? Sekali lagi Fantasia mengingatkan kita semua pada dunia Seni yang “fleksibel” tetapi sebenarnya rumit dan “strict”. Sistim penilaian Skywalker adalah sebuah perlawanan terhadap pola pikir Post-Modern dan bisa jadi merupakan sebuah ajakan untuk kembali pada standar-standar ala era Modern—membentuk gerakan Neo-Modernism yang menolak arbiternya Post-Modernism. Sistim ini dengan tegas membedakan Film dengan format seni lainnya sehingga kesesuaian antara buku dengan adaptasi filmnya pun dianggap tidak berlaku sebagai bahan acuan dalam sistim Skywalker. Fantasia adalah sebuah film, mau tidak mau, harus ada cerita yang mengikat keseluruhannya. Jika tidak, film ini tak ubahnya sebuah rekaman pementasan musik.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Informasi lebih lanjut mengenai kenyataan bahwa Fantasia gagal memenuhi visi Walt Disney dapat disimak dalam artikel yang ditulis oleh Jim Hill [Klik Artikel Di Sini]. Di dalam artikel tersebut dijelaskan bagaimana perusahaan Walt Disney “membohongi” publik dengan mengiklankan Fantasia sebagai “Masterpiece” Walt Disney.

ENOnce Walt got to the podium, he started weeping, then said, "Thank you so much for this. Maybe I should have a medal for bravery. We all make mistakes. 'Fantasia' was one but an honest one. I shall now rededicate myself to my old ideals." The Walt Disney Company would like you to believe that the original "Fantasia" was Walt's masterpiece—the film that Disney was most proud of. The truth is...Walt was embarrassed by "Fantasia." [Article by Jim Hill published on JimHillMedia.com in March 2003]

IDSetelah Walt naik ke podium, dia mulai tersedu dan mengatakan, “Terima kasih untuk [penghargaan] ini. Mungkin saya seharusnya menerima medali keberanian. Kita semua pernah membua kesalahan. Fantasia adalah sebuah kesalahan. Mulai saat ini saya akan fokus kembali pada idealisme saya yang lama.” Perusahaan Disney ingin agar masyarakat berpikir bahwa Fantasia adalah maha karya Walt Disney—film yang paling membanggakan bagi Walt Disney. Tapi kenyataannya, Walt merasa malu dengan Fantasia. [diambil dari artikel oleh Jim Hill, Maret 2003diterjemahkan oleh Nabil Bakri]

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

“I repeat, when Igor Stravinsky wrote his ballet, "The Rite of Spring" his purpose was, in his own words, "to express primitive life." And so Walt Disney and his fellow artists have taken him at his word. Instead of presenting the ballet in its original form as a simple series of tribal dances, they have visualized it as a pageant as the story of the growth of life on Earth. And that story, as you're going to see it, isn't the product of anybody's imagination. It's a coldly accurate reproduction of what science thinks went on during the first few billion years of this planet's existence. Science, not art, wrote the scenario of this picture. According to science, the first living things here were single-celled organisms, tiny little white or green blobs of nothing in particular that lived under the water. And then, as the ages passed, the oceans began to swarm with all kinds of marine creatures. Finally, after about a billion years, certain fish, more ambitious than the rest, crawled up on land and became the first amphibians. And then several hundred million years ago, nature went off on another task and produced the dinosaurs. Now, the name "dinosaur" comes from two Greek words meaning "terrible lizard", and they were certainly that. They came in all shapes and sizes, from little crawling horrors about the size of a chicken to hundred-ton nightmares. They were not very bright. Even the biggest of them had only the brain of a pigeon. They lived in the air and the water as well as on land. As a rule, they were vegetarians, rather amiable and easy to get along with. However, there were bullies and gangsters among them. The worst of the lot, a brute named Tyrannosaurus Rex was probably the meanest killer that ever roamed the earth. The dinosaurs were lords of creation for about 200 million years. And then... well, we don't exactly know what happened. Some scientists think that great droughts and earthquakes turned the whole world into a gigantic dustbowl. In any case, the dinosaurs were wiped out. That is where our story ends. Where it begins is at a time infinitely far back when there was no life at all on earth, nothing but clouds of steam, boiling seas and exploding volcanoes. So now imagine yourselves out in space billions and billions of years ago looking down on this lonely, tormented little planet spinning through an empty sea of nothingness.”—Deems Taylor

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

ADDITIONAL CONSIDERATIONS

[Lima poin tambahan ini bisa menambah dan/atau mengurangi sepuluh poin sebelumnya. Jika poin kosong, maka tidak menambah maupun mengurangi 10 poin sebelumnya. Bagian ini adalah pertimbangan tambahan Skywalker, maka ditambah atau dikuranginya poin pada bagian ini adalah hak prerogatif Skywalker, meskipun dengan pertimbangan yang sangat matang]

01 Skywalker’s Schemata

Saya sangat menyukai animasi dalam Fantasia. Bahkan ketika memilih adegan mana yang harus diambil Screenshot-nya untuk melengkapi artikel ini, saya merasa kebingungan karena ada banyak sekali lukisan yang indah dalam film ini. Saya menyukai beberapa bagian Fantasia, misalnya kemunculan para dinosaurus dalam Rite of Spring, kemunculan para makhluk mitologi dalam The Pastoral Symphony, dan kemunculan Iblis Chernabog dalam Night on Bald Mountain. Namun ketika semua bagian itu disatukan, pada akhirya, saya sama sekali tidak menyukai Fantasia. Ketika pertama kali menonton film ini, saya benar-benar kecewa sampai saya kira DVD yang saya beli mengalami kerusakan karena Fantasia benar-benar aneh. Film itu tidak seperti sebuah film, dan hanya sekumpulan konsep yang asal disatukan tanpa ada satu konsep utama—selain mencoba membuat animasi seperti konser. Menurut saya, Fantasia adalah sebuah percobaan yang tidak benar-benar diperlukan. Ada potensi yang besar dalam animasi ini yang, apabila dirajut menjadi sebuah cerita, akan sangat menarik. Film ini bahkan bukan sebuah film konser yang baik karena cerita yang ditampilkan kebanyakan tidak sesuai dengan fungsi asli musiknya.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Saya membayangkan bagaimana jika kisah Mickey Mouse yang menjadi penyihir digabungkan dengan kisah mitologi Yunani dan kemunculan para dinosaurus. Belum lagi kemunculan Iblis Chernabog yang bisa menjadi villain terkuat dalam film ini—sebuah animasi Fantasi yang fantastis. Sayang sekali, kemungkinan-kemungkinan itu dibuang begitu saja dan menjadi Fantasia. Saya adalah penggemar berat Disney, tetapi saya tidak mau menjadi gelap mata dan membela kualitas film ini ketika saya jelas-jelas melihat bahwa film ini kualitasnya tidak baik. Umumnya penonton yang cinta Disney atau kritikus akan memuji animasi film ini dan musik yang disajikan. Mereka menganggap film ini sebagai sebuah “masterpiece”—umumnya karena mereka ingin terdengar atau terlihat Sophisticated, punya selera seni yang tinggi, tetapi sebenarnya tidak bisa memberikan alasan yang lebih dari itu. Saya pun menyukai animasi dalam film ini, musik Night on the Bald Mountain dan lagu Ave Maria adalah dua karya yang senang saya dengarkan. Namun tetap saja, Fantasia tidak menawarkan apapun yang menarik ketika disatukan. Pilihan musiknya pun menurut saya terlalu “biasa”, interpretasinya terlalu “mengada-ada”, dan durasinya terlalu panjang. Tidak heran anak-anak umumnya tidak menyukai film ini. Anda tidak perlu melawan pernyataan saya bahwa anak-anak tidak menyukai film ini karena Anda kemungkinan belum pernah mengamatinya sendiri dan saya sudah pernah.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Pada tahun 2018 dan 2019, saya menjadi guru Bahasa Inggris untuk anak-anak Sekolah Dasar dan Menengah. Saya harus menyiapkan daftar film apa saja yang akan saya putarkan di dalam kelas dan saya memanfaatkan kesempatan itu untuk sekaligus mengamati film-film apa saja yang disukai anak-anak. Mereka menolak Bambi, tidak begitu tertarik menonton The Land Before Time, dan banyak bicara saat menonton Oliver and Company. Saya memutarkan Fantasia untuk adik saya di rumah dan mereka tidak menyukainya. Alhasil, saya menyimpulkan bahwa anak-anak ini tidak akan menyukai Fantasia karena anak-anak seusia mereka umumnya tidak menyukai film-film yang serumpun. Kita tidak bisa menyanggah dengan “Oh, di zaman saya dulu…” karena zaman sudah berubah. Semasa kecil, saya sangat gembira bisa menyaksikan The Land Before Time, dan Bambi adalah salah satu film favorit saya. Namun ternyata, anak-anak masa kini tidak terlalu menyukainya. Yang mengejutkan dari kasus Fantasia adalah, ketika Bambi dan The Land Before Time sangat disukai di masa lalu, Fantasia sudah tidak disukai oleh anak-anak ketika filmnya dirilis. Film itu membuat anak-anak bingung dan ketakutan—bukan sebuah tontonan yang ideal untuk menemai masa-masa Perang Dunia II. Barulah seiring berjalannya waktu, film ini mendapakan respons yang lebih positif—pun umumnya dari kalangan kritikus atau pecinta Disney. Fantasia adalah film dengan konsep-konsep animasi yang luar biasa, tetapi tidak lebih dari itu.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

02 Awards

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh IMDb, Fantasia menerima 8 penghargaan dan 1 nominasi—namun terdapat penghargaan yang diterima jauh setelah tahun perilisannya [misalnya memenangkan penghargaan DVD Exclusive Awards untuk Best DVD Overall Original Supplemental Material pada tahun 2001].

03 Financial

Fantasia dibuat dengan dana sebesar $2.28 juta. Ketika pertama kali dirilis, film ini berhasil menjual tiket sebesar $1.3 juta [?]. Angka pendapatan tersebut menunjukkan kerugian yang besar. Hal yang lebih mengejutkan adalah angka itu masih harus dikurangi untuk biaya pemasangan sistim suara stereo Fantasound hingga pendapatan Fantasia diperkirakan sebesar $325 ribu [?] saja. Kegagalan film ini juga diakibatkan oleh Perang Dunia II yang sedang meletus di Eropa sehingga Fantasia tidak bisa ditayangkan di berbagai negara Eropa. Barulah pada masa setelah perang, Fantasia dirilis ulang [tanpa menggunakan sistim Fantasound untuk menghemat biaya] dan hingga artikel ini dirilis, Fantasia telah menghasilkan uang sebesar $83 juta setelah berkali-kali dirilis ulang. Namun tetap saja, film ini merupakan sebuah kegagalan box office yang sangat besar.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

04 Critics

Fantasia mendapatkan tanggapan yang beragam dan cenderung negatif. Terdapat banyak kritikus yang memberikan tanggapan positif, tetapi kalangan yang mengkritik negatif memiliki suara yang lebih besar. Apalagi, pandangan negatif ini sejalan dengan pandangan penonton secara umum. Barulah seiring berjalannya waktu tanggapan untuk Fantasi beruah menjadi mayoritas positif.

05 Longevity

Perusahaan Disney telah berhasil memoles kegagalan Fantasia sebagai sebuah keberhasilan. Meskipun jelas-jelas Fantasia gagal total secara finansial dan membuat Walt Disney kecewa, perusahaan ini senantiasa mengiklankan Fantasia sebagai “Walt Disney’s Crowning Achievement/Masterpiece” dan merilis ulang film ini berkali-kali. Hasilnya, popularitas film ini kian meningkat dan tanggapan-tanggapan yang sebelumnya negatif perlahan menjadi positif. Jika dilihat lagi, sebetulnya Fantasia memiliki konsep yang mirip dengan film-film Segmen seperti Make Mine Music, Saludos Amigos, Fun and Fancy Free, serta The Adventures of Ichabod and Mr. Toad. Namun, film-film lainnya tidak diiklankan segencar Fantasia. Apabila film-film itu diiklankan seperti perusahaan mengiklankan Fantasia, maka besar kemungkinan kesemuanya akan meraih popularitas baru. Terlepas dari seberapa besar peran perusahaan Disney dalam menggiring opini publik untuk menyukai Fantasia, film ini masih bertahan melawan gerusan zaman. Kalaupun film ini tidak dikenal luas berkat kualitanya yang bagus, setidaknya film ini akan terus dibicarakan berkat sejarahnya yang stands-out.

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Final Score

Skor Asli                     : 6

Skor Tambahan           : -

Skor Akhir                  : 6/10


***

Spesifikasi Optical Disc

[Cakram Film DVD/VCD/Blu-ray Disc]

Judul               : Fantasia: The Original Classic [Special Edition]

Rilis                 : 15 Oktober 2010

Format             : VCD [|||] DVD [|||] Blu-ray Disc [||]

Kode Warna    : PAL [VCD], NTSC [DVD], A [Blu-ray]

Fitur                : [|||][||] Audio commentary, behind the scenes, Disney Family Museum

Support           : Windows 98-10 [VLC Media Player], DVD Player, HD DVD Player [termasuk X-Box 360], Blu-ray Player [termasuk PS 3 dan 4], 4K UHD Blu-ray Player [termasuk PS 5].

Keterangan Support:

[Support VCD, DVD, Kecuali Blu-ray dan 4K]

[Support VCD, DVD, Termasuk Blu-ray, Kecuali 4K]

[Support Semua Termasuk 4K]

STREAMING

YouTube [Free][Selama tersedia]

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

***

Edisi Review Singkat

Edisi ini berisi penilaian film menggunakan pakem/standar penilaian Skywalker Hunter Scoring System yang diformulasikan sedemikian rupa untuk menilai sebuah karya film ataupun serial televisi. Karena menggunakan standar yang baku, edisi review Skywalker akan jauh lebih pendek dari review Nabil Bakri yang lainnya dan akan lebih objektif.

Edisi Review Singkat+PLUS

Edisi ini berisi penilaian film menggunakan pakem/standar penilaian Skywalker Hunter Scoring System yang diformulasikan sedemikian rupa untuk menilai sebuah karya film ataupun serial televisi. Apabila terdapat tanda Review Singkat+PLUS di bawah judul, maka berdasarkan keputusan per Juli 2021 menandakan artikel tersebut berjumlah lebih dari 3.500 kata.

Skywalker Hunter adalah alias dari Nabil Bakri

Keterangan Box Office dan penjualan DVD disediakan oleh The Numbers

©1940/Disney/Fantasia/All Rights Reserved.

Fantasia, The Story ofDisney’s Failure by Jim Hill dapat dibaca di Blog ini